Gereja MBK PIK 2 Jakarta

Public Buildings and Spaces

Acoustic Engineering, Audiovisual, Lighting Design

2023 · Jakarta, ID

Gereja Katolik Maria Bunda Kita berada dalam kawasan Ecopark PIK2, dikembangkan oleh Agung Sedayu Group dengan arsitektur oleh Hawawinata & Associates, dan ALTA Integra dilibatkan sebagai konsultan akustik, pencahayaan, dan audiovisual. Gereja ini sengaja ditempatkan pada distrik sipil yang sama dengan sebuah masjid besar, sebagai pernyataan tegas tentang koeksistensi antaragama di kawasan tersebut. Bentuk basilika bergaya Gotik ini memiliki empat menara setinggi sekitar 65 meter dan ruang utama yang dirancang untuk menampung sekitar 1.640 jemaat — menjadikannya salah satu ruang ibadah Katolik terbesar di Jabodetabek — berada dalam kompleks yang lebih luas mencakup Pastoran serta Maria Plaza & Chapel, ruang terbuka untuk berkumpul lengkap dengan kapel devosi yang lebih kecil. Pencahayaan fasad dirancang dengan pendekatan yang tertahan, bukan spektakuler, selaras dengan penghormatan gereja ini kepada Bunda Maria — hangat, lembut, dan mengundang, bukan dramatis. Cahaya menanjak menara secara bertahap, semakin ringan dan halus di tiap lantai hingga seolah menghilang mendekati puncak, menegaskan garis vertikal bangunan. Posisi lampu dan sudut sorotnya divalidasi lewat simulasi dan mock-up pencahayaan yang menguji reflektansi material, rendering warna, dan silau sebelum pemasangan, menggunakan LED hemat energi dengan sistem kontrol yang diprogram untuk berbagai masa liturgi dan momen sipil, sambil menjaga tingkat terang dan pancaran cahaya tetap terbatas demi lingkungan publik di sekitarnya. Proses value engineering setelah estimasi biaya awal melebihi anggaran menuntut pemilihan ulang perangkat dan detail tanpa menghilangkan hirarki dan kedalaman yang dituju oleh desain pencahayaan. Pencahayaan interior mengikuti pendekatan berlapis: pencahayaan ambient untuk kenyamanan visual dasar, uplighting arsitektural tersembunyi yang menelusuri lengkung Gotik dan rusuk kubah, serta iluminasi vertikal pada dinding dan kolom agar ruang terasa lebih terang tanpa tambahan konsumsi energi. Lapisan liturgis tersendiri memakai kontras luminansi — bukan sekadar terang — untuk mengarahkan perhatian ke altar, salib, dan mimbar, sementara pencahayaan aksen dengan CRI dan TM-30 tinggi menjaga warna asli batu, kayu, patung, dan kaca patri. Karena ibadah disiarkan langsung, pencahayaan juga dirancang untuk performa kamera — lampu bebas flicker, suhu warna yang ramah kamera, dan iluminasi vertikal untuk pemodelan wajah — dengan layar audiovisual yang tetap terlihat sebagai elemen pendukung, bukan menyaingi altar.