Semua insights
Perspective 15 Juli 2026 · 4 menit baca

Pentingnya Thermal Comfort dalam Arsitektur Bangunan dan Desain Green Building

Menurut Marcus Vitruvius Pollio dalam bukunya yang berjudul 'De Architectura', yang ditulis pada tahun 15 SM: 'Sebuah arsitektur bangunan harus didukung oleh tiga kualitas dasar:…

A Oleh ALTA Integra
Pentingnya Thermal Comfort dalam Arsitektur Bangunan dan Desain Green Building

Menurut Marcus Vitruvius Pollio dalam bukunya yang berjudul 'De Architectura', yang ditulis pada tahun 15 SM: 'Sebuah arsitektur bangunan harus didukung oleh tiga kualitas dasar: kualitas firmitas (kekuatan, ketahanan), kualitas utilitas (fungsional), dan kualitas venustas (keindahan).'

Untuk mencapai kualitas atau utilitas fungsional, sebuah ruangan harus memenuhi tuntutan dasar kenyamanan. Kenyamanan yang harus dipenuhi oleh suatu ruang meliputi kenyamanan gerak (ergonomi, sirkulasi), kenyamanan udara (suhu, kelembapan, sirkulasi udara, tingkat polusi), serta kenyamanan sensori mata dan telinga (pencahayaan, akustik).

Hubungan antara Fungsi Ruang dan Thermal Comfort

Ruang dalam bangunan sebagai hasil dari desain arsitektur memiliki beberapa fungsi. Fungsi pertama adalah sebagai pelindung (shelter). Fungsi kedua adalah sebagai wadah untuk melakukan berbagai aktivitas seperti bekerja, belajar, berolahraga, hiburan, berkumpul, beristirahat, dan lain-lain. Fungsi ketiga adalah fungsi sosial dan budaya (Mark & Morris, 1980).

Terkait fungsi perlindungan suatu ruang, secara termal ruang tersebut harus mampu melindungi penghuninya dari cuaca yang terlalu dingin atau terlalu panas, yang dapat menyebabkan penghuni jatuh sakit atau bahkan meninggal dunia. Dalam konteks ruang sebagai tempat melakukan aktivitas, diperlukan kondisi termal yang paling nyaman bagi aktivitas tersebut, sehingga aktivitas dapat dilakukan secara optimal.

Thermal Comfort Meningkatkan Kualitas Hidup dan Kesehatan

Beberapa penelitian membuktikan bahwa thermal comfort dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan manusia.

Performa intelektual, fisik, dan persepsi sensorik seseorang akan mencapai kondisi terbaiknya ketika orang tersebut berada dalam kondisi thermal comfort (Fanger, 1982). Artinya, aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan hal intelektual seperti belajar, pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan pemikiran, pekerjaan kreatif, dan lain-lain, dapat dilakukan dengan baik jika seseorang berada dalam kondisi termal yang nyaman. Ruangan dengan thermal comfort yang baik juga dapat meningkatkan kualitas aktivitas terkait fisik seperti olahraga. Aktivitas yang berkaitan dengan persepsi sensorik mata dan telinga, seperti di rumah ibadah, gedung konser, bioskop, dan pertunjukan seni lainnya, sangat memerlukan kondisi thermal comfort yang tepat.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Altman dan Stokol pada tahun 1987, produktivitas pekerja pabrik atau kantor yang melakukan pekerjaan berulang cenderung menurun jika dilakukan di dalam ruangan dengan tingkat suhu dan kelembapan yang tinggi. Meskipun keterkaitan antara produktivitas pekerja dan thermal comfort sudah diketahui, pemilik bangunan cenderung menekan biaya investasi untuk mencapai thermal comfort. Padahal, menurut Edward pada tahun 1989, biaya investasi dan operasional untuk mencapai thermal comfort jauh lebih murah dibandingkan biaya gaji karyawan dan pengembangan bisnis.

Suhu "inti" (core) tubuh manusia, jika melebihi 37 derajat Celsius, dapat menyebabkan stroke, heat exhaustion, atau bahkan kematian (Evan & Cohen, 1987). Ketika tubuh manusia berada dalam ruangan dengan suhu di atas 40 derajat Celsius, suhu tubuh dapat meningkat. Peningkatan suhu tubuh ini disertai dengan peningkatan detak jantung. Detak jantung yang meningkat akibat kenaikan suhu tubuh dapat menyebabkan stroke. Selain itu, suhu ruangan yang panas dapat menyebabkan tubuh menjadi lelah dan dehidrasi. Dalam kondisi ekstrem, dan jika kondisi tubuh sedang tidak baik, hal ini dapat menyebabkan kematian.

Strategi Desain untuk Mencapai Thermal Comfort

Thermal comfort dapat dicapai melalui strategi desain bangunan alami (natural design) dan strategi desain mekanikal (mechanical design).

Strategi natural design dapat mengoptimalkan thermal comfort sekaligus menurunkan penggunaan energi untuk mengendalikan suhu ruangan. Strategi natural design tersebut meliputi:

1. Orientasi Bangunan

2. Peneduh (Shelter)

3. Ventilasi Alami

4. Kelembapan atau Pengeringan Udara

5. Jenis Konstruksi

6. Sifat Termal Bangunan

Strategi mechanical design untuk mencapai thermal comfort meliputi:

1. Pengeringan dan Pelembapan Udara

2. Pemanasan atau Pendinginan

Strategi Desain Natural Thermal Comfort untuk Green Building Design

Pemikiran mengenai Green Building Design mulai berkembang sejak munculnya kekhawatiran global terhadap menipisnya energi fosil di dunia sekitar tahun 1960. Rachel Carson, melalui bukunya yang berjudul Silent Spring pada tahun 1962, dianggap sebagai buku yang mengawali konsep Green Building Design.

Penelitian yang dilakukan oleh Clement dan Croome menunjukkan adanya korelasi unik antara pencapaian thermal comfort dengan biaya investasi yang dikeluarkan. Sebagai desainer Green Building, kita harus menemukan titik temu antara investasi jangka panjang dengan performa bangunan agar dapat mencapai ROI yang maksimal.

ALTA Integra adalah perusahaan konsultan teknis yang berfokus pada bidang Natural Thermal Comfort dan Green Building Design.

Jika Anda mengalami masalah yang mengganggu aktivitas terkait thermal comfort, atau ingin membuat desain bangunan baru dengan natural thermal comfort yang baik, silakan hubungi ALTA Integra.

Herwin Gunawan

Principal

ALTA Integra

Untuk konsultasi thermal comfort dalam arsitektur bangunan, silakan isi formulir di bawah ini atau hubungi kami di:

ALTA Integra

Jl. Hayam Wuruk No. 2 R – S

Jakarta Pusat, 10210

Telp: 021 3513351

Fax: 021 3458143

Terkait