Semua insights
Site Observation 15 Juli 2026 · 6 menit baca

Kualitas Audio dan Akustik Ruang dalam Menikmati Musik

Akustik yang Baik dan Mumpuni untuk Konser Musik

A Oleh ALTA Integra
Kualitas Audio dan Akustik Ruang dalam Menikmati Musik

Akustik yang Baik dan Mumpuni untuk Konser Musik

Pada tanggal 29 November 2009, saya mendapatkan kesempatan langka untuk menyaksikan pertunjukan Music Odyssey of Addie MS. Sesuai dengan judulnya, pertunjukan ini menceritakan perjalanan bermusik Addie MS, mulai dari membentuk band bersama Ikang Fawzi, hingga kemudian beralih profesi menjadi arranger musik.

Indra Bakrie, yang melihat potensi besar yang dimiliki Addie MS, mendorongnya untuk membentuk sebuah orkestra klasik — sesuatu yang awalnya ditolak oleh Addie MS sendiri. Menurut Addie MS saat itu, tidak akan ada yang mau mendengarkan musik klasik. Namun berkat kegigihan Indra Bakrie dan dukungan teman-temannya, Addie MS akhirnya bersedia membentuk Twilight Orchestra.

Music Odyssey of Addie MS digagas oleh teman-teman Addie MS sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya selama 30 tahun dalam memajukan dunia musik Indonesia, sekaligus bertepatan dengan hari ulang tahunnya.

Konser ini diselenggarakan di Plenary Hall, Jakarta Convention Center. Plenary Hall sebenarnya merupakan ruang konferensi berbentuk bundar dengan plafon berbentuk kubah besar dan kubah kecil terbalik di tengah lingkarannya. Ruangan ini memiliki faktor peredaman yang membuat gaungnya cukup baik. Namun sesungguhnya, dari sisi akustik, ruangan ini kurang layak untuk menyelenggarakan pertunjukan musik klasik. Oleh karena itu, pihak penyelenggara konser menggunakan sistem audio dengan speaker line array untuk mendistribusikan suara musik kepada penonton.

Orkestra klasik Addie MS
Concert Hall orkestra klasik Addie MS

Susunan panggung seperti yang terlihat pada gambar di atas, dimulai dari lapisan paling belakang, adalah barisan paduan suara (choir). Lapisan kedua dari belakang adalah barisan perkusi orkestra, kemudian di depan lapisan perkusi terdapat barisan alat musik tiup. Di depan lapisan alat musik tiup logam (brass), susunannya terbagi menjadi 4 bagian: bagian paling kiri adalah alat musik band, dengan susunan di belakangnya berupa drum, bass elektrik, gitar elektrik, dan piano elektrik. Di sebelah kanan adalah kelompok alat musik gesek biola (treble). Agak ke depan sebelah kanan terdapat grand piano, dan paling kanan adalah kelompok alat musik gesek cello (bass).

Lagu pertama yang saya dengar membawakan nuansa yang jernih, dibawakan oleh penyanyi muda berbakat Vidi Aldiano dengan iringan piano Addie MS dan Twilight Orchestra. Lagu berikutnya dibawakan oleh Ikang Fawzi, Vina Panduwinata, Memes, Utha Likumahua, dan Citra Bunga Lestari. Tampaknya fase ini adalah fase ketika Addie MS tengah berkarya keras di ranah musik pop.

Setelah fase musik pop, pertunjukan mulai memasuki babak yang lebih serius, ditandai dengan penampilan Twilight Chorus dan Tiga Soprano Indonesia, kemudian disusul seorang tenor asal Australia. Rangkaian acara ini tampaknya cukup padat, sehingga hingga pukul 23.00 pun belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Penonton mulai gelisah dan satu per satu mulai meninggalkan tempat. Padahal masih ada sajian musik yang disiapkan sebagai penutup pertunjukan ini, namun penonton tidak sabar untuk pulang karena hari sudah terlalu larut.

Membandingkan Pertunjukan dengan Penguatan Audio dan Tanpa Penguatan Audio

Mendengarkan suara musik dalam bentuknya yang paling orisinal adalah impian setiap pecinta musik dan penggemar audio. Salah satu cara untuk menikmati musik dalam bentuk aslinya adalah dengan mendengarkan konser klasik di concert hall yang memiliki akustik baik, tanpa penguatan sistem audio. Dengan begitu, suara musik yang kita dengar benar-benar berasal dari suara alat musik asli beserta akustik ruangannya. Secara praktis, kualitas musik yang kita nikmati sangat ditentukan oleh kualitas akustik concert hall tersebut. Sayangnya, kualitas akustik Plenary Hall JCC tidak memenuhi syarat untuk pertunjukan musik tanpa penguatan audio.

Karena itu, dalam tulisan ini saya ingin membahas perbedaan antara pertunjukan musik tanpa penguatan audio dengan pertunjukan musik dengan penguatan audio. Berikut beberapa gambaran perbandingannya: pertunjukan musik tanpa penguatan audio terdengar nyata, jernih, dan dinamis tanpa kompresi. Kita dapat menikmati setiap detail suara tanpa cacat karena tidak adanya sistem audio yang ikut campur. Salah satu kelemahan pertunjukan tanpa penguatan audio adalah apabila ruang pertunjukan tersebut memiliki banyak kebisingan yang disebabkan oleh manusia maupun sistem ventilasi udara atau mesin di sekitar ruangan. Kelemahan kedua adalah apabila ruang pertunjukan tidak memiliki kualitas akustik yang memadai, kualitas suara instrumen pun akan terdengar kurang baik.

Sementara itu, pada pertunjukan musik Addie MS, yang merupakan pertunjukan dengan penguatan audio, saya merasa seperti mendengarkan suara dari speaker atau sistem audio, di mana kita bisa merasakan karakter speaker box dengan karakter tweeter dan woofer-nya. Dinamika musik pun sedikit terkompresi, mulai dari mikrofon hingga amplifier. Suara musik asli tercampur dengan pewarnaan (colouration) dari sistem audio. Sedangkan dari segi akustik, saya merasakan frekuensi nada tinggi cenderung terserap oleh material peredam yang terdapat di ruangan ini. Saya pun kesulitan untuk menikmati kejernihan dan kerincingan suara piano dalam pertunjukan tersebut.

Membandingkan Pertunjukan dengan Penguatan Audio dan Kesan Musik pada Perangkat Home Theater

Hal kedua yang ingin saya sampaikan kepada pembaca adalah perbedaan pertunjukan musik ini apabila dibandingkan dengan suara yang saya dengar melalui sistem home theater yang baik.

Perbedaan antara pertunjukan musik yang saya dengar saat ini dengan kesan musik pada perangkat home theater adalah bahwa musik pada sistem home theater terdengar sangat terkompresi, dan resolusi suara instrumennya tidak sebaik pertunjukan musik yang saya dengar hari ini.

Hanya saja, sayangnya, dalam pertunjukan musik ini saya merasa hasil mixing dari masing-masing kanal kurang seimbang dan kurang rapi. Sebagai contoh, suara piano tenggelam dibandingkan level string section, suara vokal tenggelam dibandingkan suara drum dan bass. Singkatnya, kenikmatan saya dalam mendengarkan musik yang dipentaskan Addie MS ini menjadi kurang optimal akibat performa suara audio yang kurang maksimal serta kualitas akustik ruangan yang kurang memadai.

Kesimpulan

Kita tidak bisa mengabaikan kualitas audio dan kualitas akustik dalam menikmati sajian musik, karena keduanya bisa memberikan kepuasan atau kekecewaan bagi para penikmat musik. Seperti yang dikatakan Addie MS pada konser ini: “Saya sangat mendambakan bisa menyajikan pertunjukan musik saya di concert hall yang layak bagi Indonesia. Namun sayangnya, Indonesia belum memiliki ruang yang layak untuk pertunjukan musik klasik.”

Karena itulah saya menulis tulisan ini, dengan harapan dapat bermanfaat bagi para penggemar audio, pencinta home theater, penikmat musik, serta mereka yang berprofesi sebagai audio engineer profesional, music director, Event Organizer, dan lain sebagainya.

Salam,
Herwin Gunawan

Untuk konsultasi kualitas akustik, silakan isi formulir berikut atau hubungi kami di:

ALTA Integra
Jl. Hayam Wuruk No. 2 R – S
Jakarta Pusat, 10120
Telp: 021 351 3 351
Fax: 021 345 8 143

Terkait